Story

Dear, You. I Love You.

Kurasa kau akan mengataiku konyol kalau aku mengakui hal ini. Ya, sepertinya aku baru saja jatuh cinta pada seseorang yang sejatinya baru kukenal sebulan ini.

Dia bukan gadis paling cantik, bukan juga gadis paling seksi di kampusku. Dia sederhana, ya, dan dengan kesederhanaannya itu aku merasa dia sangat manis. Dia selalu menghadirkan tawa diantara kami, sangat ceria. Bahkan saat sakit pun dia terawa, seperti berusaha untuk tdk membuat orang di sekitarnya khawatir bahkan iba. Tapi entah kenapa, dibalik keceriaannya, di setiap senyumnya, aku melihat sesuatu, seperti kesedihan yg ia sembunyikan.

Aku tersenyum setiap melihatnya tertawa, ekspresinya sangat lucu.

Tapi aku merasa tidak berguna, sangat tidak berguna ketika ia, dengan nafasnya yamg tersengal-sengal dan wajahnya yang pucat, berusaha berlari untuk menyelesaikan beberapa lap dlm tes olahraga di kampusku. Sesekali kulihat dia berhenti, terbatuk, kemudian kembali berlari. Tiba-tiba aku teringat perkataannya,

“Gue kadang maagh sama asma. Tapi nggak parah kok hahaha.”

Dan apa hanya aku yg menyadari ini? Apa hanya aku yg merasa, dari lap kedua tadi dia berlari sambil meremas perutnya. Padahal dia berlari paling belakang, tepat di depan medis. Lalu aku bisa apa, aku hanya bisa melihatnya dari sini. Memaksakan diri seperti itu.

Lap terakhir, beberapa teman sudah sampai di garis finish. Tapi aku belum melihatnya, apa dia baik-baik saja? Dari balik gedung yg jadi patokan tiap-tiap lap aku melihat seorang petugas medis yg juga kakak tingkat kami berlari menuju posko, dari ekspresinya sepertinya ada sesuatu yang tidak beres. Aku berlari menuju ke balik gedung, dan mendapati hal yg sangat tak ingin kulihat. Annika (gadis itu) sedang terduduk lemah, dikerumuni anggota medis, dengan darah yg ada di tangan dan lantai didepannya. Aku baru saja akan menggerakkan kakiku mendekat ketika tiba-tiba kakak tingkat mengumumkan bahwa semua maba harus berkumpul untuk memulai kloter berikutnya dan seorang teman menarik lenganku untuk kembali ke garis start. Ah aku harus bagaimana?

Seusai tes, salah satu teman mengajakku ke posko medis. Hal yg sejak tadi ingin kulakukan. Dan sampai di sana, kuliat Nika sedang bercanda dengan beberapa kakak tingkat anggota medis. Seketika aku merasa sangat lega. Ya, dia masih pucat, tp senyumnya menyamarkan itu.

Continue reading “Dear, You. I Love You.”

Uncategorized

Dan berharap pu…

Dan berharap pun mengerti kapan harus lelah dan berhenti. :’)

Ketika aku berharap terlalu tinggi dan pada akhirnya aku tahu kalau yang selama ini kuharapkan bahkan berfikir “nggak akan bisa nantinya” tapi terus memberi harapan. Membuatku berfikir dua kali dan lebih menginginkan berhenti, walau sakitnya entah… entah akan hilang atau tidak.